Blog Image
Pertanian

Dirjen Tanaman Pangan Pantau Program Percepatan Tanam dan Hilirisasi di Ciamis

  • Superadmin
  • Sunday, 12 May 2024 13:30 WIB
  • 11 views

Trimedia.id, Ciamis - Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi memantau langsung program percepatan tanam dan hilirisasi di Desa Pamarican, Kecamatan Bangunsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu 11 Mei 2024.

Kunjungan ini bertujuan untuk memantau langsung program percepatan tanam, sesuai dengan arahan  Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

"Dalam rangka percepatan tanam, sesuai dengan arahan Bapak Menteri (Mentan Amran), tapi jarak dari panen ke tanam diusahakan 14 hari, dan ini untuk meningkatkan produksi, harapannya padi yang IP 200 naik jadi 300," ujar Suwandi.

Ia berharap percepatan tanam bisa meningkatkan produktifitas pertanian, sehingga harga beras dapat menguntungkan para petani.

"Jadi supaya percepatan tanam, meningkatkan IP, produktifitas naik, petani menikmati harga, saya lihat harga di sini bagus. Petani menjadi semangat dan apresiasi buat Ciamis, sesuai petunjuk Pak Menteri, kita kerjakan percepatan tanam. Se-Kabupaten Ciamis sanggup sekitar 9 sampai 10 ribu lah. Bulan Mei ini ditanamnya. Semaksimal mungkin lah kejar target," tutur Suwandi. 

Di Kabupaten Ciamis, ujar Suwandi, sudah ada perusahaan yang mengelola produk pertanian sebagai bentuk hilirisasi. Perusahaan tersebut telah mendistribusikan beras ke beberapa wilayah Indonesia. Adapun wilayah yang paling banyak menerima beras tersebut adalah Jakarta.

"Sarana distribusi, alat-alat juda sudah lengkap, kemudian brand-nya tadi juga sudah ada, ada yang 5 kiloan, ada yang premium, ada yang 2,5 kilo, supaya bisa menjangkau segmen pasar yang membutuhkan," jelas Suwandi.

Menurutnya, hal ini bisa menjadi contoh, dan direplikasi di wilayah-wilayah lain. Karena sesuai arahan Mentan Amran, yakni percepatan tanam dan  hilirisasi. Dalam kunjungannya, Suwandi juga mendukung rencana kelompok tani di Kecamatan Bangunsari yang ingin mengembangkan agro ekowisata. Menurutnya, hal tersebut merupakan inisiatif baik yang mencerminkan pembangunan berbasis bottom up.

Selain itu, Suwandi juga mengapresiasi kerja keras para petani yang telah mengubah 24 hektare dari 54 hektare lahan pertanian mereka menjadi lahan produksi padi organik.
"Ini konsepnya Pak Ketua Poktan mau mengembangkan agro ekowisata, dan di sini sudah banyak inovasi, salah satunya dari 54 hektare di kelompok tani ini, 24 hektarenya sudah padi organik," ucap Suwandi.

Beras organik yang diproduksi para petani kemudian dijual dengan harga Rp20 ribu per kilogram. Bahkan, para petani setempat juga sudah mulai melakukan kerja sama dengan pihak lain.

Share this post