Blog Image
Pertanian

Memupuk Asa Generasi Muda Kalsel untuk Masa Depan Pertanian Indonesia

  • Superadmin
  • Friday, 21 June 2024 17:27 WIB
  • 16 views

Trimedia.id - Berdasarkan data BPS pada 2022 lalu, sektor pertanian berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional hingga 12,98 persen. Sayangnya, di tengah tingginya prospek sektor pertanian, pertanian Indonesia justru tengah mengalami isu krisis regenerasi.

Petani berusia tua lebih dari 55 tahun jumlahnya semakin meningkat. Sedangkan petani yang masuk kategori generasi muda dengan rentang usia 19-39 tahun hanya sekitar 9 persen atau sekitar 2,7 juta orang.

Kurangnya minat generasi muda menjadi petani terjadi akibat berbagai faktor. Contohnya, tingginya angka urbanisasi, keuntungan yang dianggap tidak menentu, kurangnya daya tarik profesi petani di kalangan anak muda, hingga kurangnya keterampilan di bidang pertanian.

Penurunan minat generasi muda terhadap sektor pertanian tentu menjadi permasalahan sekaligus tantangan bagi kedaulatan pangan Tanah Air. Sebab, kebutuhan suplai pangan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Di sisi lain, lima sosok muda ini justru rela terjun menjadi seorang petani muda, demi menjaga kedaulatan pangan Indonesia sekaligus memberikan edukasi bagi sesama petani agar bisa menghasilkan produk berkualitas dengan teknologi yang ada.

Salah satu Provinsi yang terus menciptakan para generasi muda di bidang pertanian adalah dari Bumi Kalimantan Selatan. Diantara generasi muda pertanian ini muncul sosok inspiratif sebagai pejuang pertanian dari Kalimantan Selatan, Siapa saja mereka?

Kisah Sukses Muhibban: Petani Cabai dari Desa Takuti, Kabupaten Banjar

Muhibban, seorang petani berusia 30 tahun dari Desa Takuti, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, memulai perjalanannya dalam membudidayakan cabai pada bulan Februari 2020, tepat saat pandemi COVID-19 mulai melanda Kalimantan.

Sebagai penerima manfaat dari Program Yess (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services), yang merupakan Program dari Kementerian Pertanian yang bekerjasama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD), ia berhasil mengembangkan usaha pertanian dalam budidaya cabai.

Menurutnya, cabai, yang merupakan bahan utama dalam berbagai macam masakan di Indonesia, terutama bagi mereka yang menyukai rasa pedas, menjadi pilihan usahanya. Bahkan konsumsi cabai yang tinggi dibandingkan dengan produksi, serta sumber daya alam Kalimantan yang melimpah dengan tanah subur, menjadikan budidaya cabai sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.

Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Cabai merupakan salah satu tanaman yang rentan terhadap hama dan penyakit, seperti antraknosa atau patek. Selain itu, fluktuasi harga cabai, terutama saat panen raya di Jawa dan Sulawesi, sering kali menyebabkan harga cabai anjlok di pasaran.

Pandemi El Nino juga memberikan dampak besar pada usaha Muhibban. Musim kemarau yang panjang dan suhu panas yang ekstrem membuat sumur cepat kering dan kebutuhan air tanaman cabai tidak terpenuhi, sehingga produksi cabai menurun.

Meskipun demikian, dengan berbekal hobi dalam tanaman hortikultura, Muhibban memulai dengan menanam 150 pohon cabai dan menghasilkan Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per hari. Kini, ia telah memiliki lahan seluas satu hektar dengan omzet mencapai Rp 75.000.000 per siklus tanam. Selain memasarkan hasil panennya secara mandiri, Muhibban juga menjadi offtaker bagi petani lain di wilayahnya, khususnya bagi petani binaannya di GAPOKTAN yang ia kelola. Kebutuhan dan permintaan cabai di wilayahnya, seperti Barabai, Kaltim, dan Kalteng, mencapai 1 ton per hari.

Muhibban juga menerapkan inovasi teknologi pertanian modern dan semi organik, seperti fertigasi tetes dan penggunaan pupuk organik cair (POC). Teknologi Fertigasi Tetes mampu meningkatkan produktivitas hasil panen dan efisiensi waktu penyiraman, sehingga memungkinkan budidaya cabai tanpa mengenal musim. Penggunaan POC mengurangi biaya produksi dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 70%, serta menjaga kesuburan tanah untuk pertanian berkelanjutan.

Selain fokus pada peningkatan produksi, Muhibban juga memberdayakan masyarakat sekitar. Dalam proses budidaya cabai, mulai dari pengolahan lahan hingga pemanenan, ia melibatkan banyak sumber daya manusia (SDM) lokal. Ia juga menawarkan kemitraan bagi mereka yang ingin bermitra dalam usaha ini.

Keikutsertaan Muhibban dalam Program YESS (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services) memberikan banyak manfaat. Melalui program magang bersertifikat selama tiga bulan dan beberapa pelatihan lainnya, ia memperoleh wawasan luas di sektor pertanian dan menjadi kompeten di bidangnya. Bantuan dana hibah kompetitif senilai Rp 50.000.000 dari program tersebut membantu Muhibban menjadi wirausaha muda yang sukses dan dikenal banyak orang.

Keberhasilan Muhibban tidak hanya diakui oleh masyarakat, tetapi juga mendapat kepercayaan dari kepala desa dan masyarakat setempat untuk mengelola GAPOKTAN sebagai ketua. Ia juga menjadi petani binaan Bank Indonesia, dari hulu hingga hilir usahanya.

"Terima kasih Program YESS dan semua pihak yang terkait," ujar Muhibban, menutup kisah suksesnya.

Dengan semangat dan kerja keras, Muhibban membuktikan bahwa tantangan dalam budidaya cabai dapat diatasi dengan inovasi, kerja keras, dan dukungan dari berbagai pihak. Ia menjadi inspirasi bagi banyak petani muda di Indonesia.

Rahmi: Inspirasi dari Desa Telaga, Pelaihari

Rahmi, seorang perempuan berusia 30 tahun dari Desa Telaga, Kecamatan Pelaihari, Tanah Laut, telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Sejak tahun 2020, Rahmi memulai usaha ternak kambing bersama suaminya, terinspirasi dari usaha orang tuanya. Meski menghadapi tantangan dengan disabilitas yang dimiliki, Rahmi mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.

Saat pertama kali memulai, Rahmi hanya memiliki omzet sebesar Rp. 8.000.000. Namun, melalui ketekunan dan inovasi, kini ia berhasil meningkatkan omzet hingga mencapai Rp. 50.000.000 per tahun. Salah satu kunci sukses Rahmi adalah penerapan teknologi dan inovasi dalam usahanya. Penjualan ternak dilakukan secara online, memudahkan jangkauan pasar yang lebih luas. Selain itu, Rahmi juga mengolah pupuk organik dari kotoran kambing, menambah nilai ekonomis usahanya sekaligus berkontribusi pada lingkungan.

Rahmi tidak hanya fokus pada kesuksesan pribadinya. Sebagai anggota komunitas tuna rungu dan tuna wicara, ia aktif memberdayakan masyarakat sekitar. Rahmi sering memotivasi teman-teman sesama disabilitas untuk tetap semangat dalam berusaha. Kini, ia juga tergabung dalam Young Ambassador Agriculture, sebuah program yang memberikan motivasi dan pendampingan bagi para pemuda di bidang pertanian, khususnya mereka yang memiliki disabilitas.

Perjalanan Rahmi tidak lepas dari dukungan Program YESS (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services), yang merupakan Program dari Kementerian Pertanian yang bekerjasama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Melalui program ini, Rahmi mendapatkan pendampingan dalam literasi keuangan, bantuan pengajuan proposal hibah, serta pendaftaran dalam Young Ambassador Agriculture 2024. Pendampingan ini memberikan banyak manfaat bagi Rahmi, termasuk bertambahnya relasi pertemanan dan jaringan usaha.

Rahmi adalah contoh nyata bahwa dengan tekad dan semangat, keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih sukses. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang menghadapi tantangan serupa. Rahmi terus membuktikan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk sukses, asalkan mau berusaha dan tidak menyerah pada keadaan.

Berdasarkan data BPS pada 2022 lalu, sektor pertanian berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional hingga 12,98 persen. Sayangnya, di tengah tingginya prospek sektor pertanian, pertanian Indonesia justru tengah mengalami isu krisis regenerasi.

Petani berusia tua lebih dari 55 tahun jumlahnya semakin meningkat. Sedangkan petani yang masuk kategori generasi muda dengan rentang usia 19-39 tahun hanya sekitar 9 persen atau sekitar 2,7 juta orang.

Kurangnya minat generasi muda menjadi petani terjadi akibat berbagai faktor. Contohnya, tingginya angka urbanisasi, keuntungan yang dianggap tidak menentu, kurangnya daya tarik profesi petani di kalangan anak muda, hingga kurangnya keterampilan di bidang pertanian.

Penurunan minat generasi muda terhadap sektor pertanian tentu menjadi permasalahan sekaligus tantangan bagi kedaulatan pangan Tanah Air. Sebab, kebutuhan suplai pangan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Di sisi lain, lima sosok muda ini justru rela terjun menjadi seorang petani muda, demi menjaga kedaulatan pangan Indonesia sekaligus memberikan edukasi bagi sesama petani agar bisa menghasilkan produk berkualitas dengan teknologi yang ada.

Salah satu Provinsi yang terus menciptakan para generasi muda di bidang pertanian adalah dari Bumi Kalimantan Selatan. Diantara generasi muda pertanian ini muncul sosok inspiratif sebagai pejuang pertanian dari Kalimantan Selatan, Siapa saja mereka?

Yandi Aulia Rahman: Petani Muda yang Menginspirasi dari Hulu Sungai Selatan

Yandi Aulia Rahman, seorang pemuda berusia 28 tahun dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan, telah membuktikan bahwa pertanian tidak hanya sekadar profesi, tetapi juga sebuah passion yang bisa menghasilkan keberhasilan dan perubahan positif.

Tergabung dalam penerima manfaat dari Program Yess, yang merupakan Program dari Kementerian Pertanian yang bekerjasama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD), ia mendapatkan berbagai manfaat yang signifikan.

Seperti yang diceritakan olehnya, ia memulai usahanya pada tahun 2018 di bidang pertanian hortikultura, khususnya olirikultura (sayur-sayuran) dan frutikultura (buah-buahan), Yandi telah menciptakan sebuah perjalanan yang menginspirasi banyak orang.

Keputusan Yandi untuk terjun ke dunia pertanian didorong oleh kecintaannya yang mendalam pada sektor ini. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah melihat banyak petani yang terlalu bergantung pada pupuk kimia seperti urea. Hal ini mendorong Yandi untuk menerapkan konsep pertanian berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan mengandalkan bahan-bahan organik sebagai ujung tombak dan menjadikan bahan kimia hanya sebagai pelengkap, Yandi berusaha menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Bahan organik yang digunakan Yandi antara lain adalah bokashi, pupuk organik hasil fermentasi kotoran hewan, pupuk organik cair seperti OPC, Eco-Enzyme, dan pupuk daun anti-stres yang berbahan aktif asam amino. Semua pupuk ini diproduksi sendiri dengan memanfaatkan limbah dari sayur-sayuran dan buah-buahan, sehingga mendukung prinsip pertanian berkelanjutan.

Dalam hal pemasaran, Yandi tidak bekerja sendirian. Bersama istrinya, mereka membagi tugas dengan baik: Yandi menangani produksi di hulu, sedangkan istrinya mengelola pemasaran di hilir. Mereka juga memiliki outlet bernama Juragan Sayur & Buah sebagai wadah penjualan hasil pertanian mereka. Dengan kolaborasi yang solid ini, pendapatan mereka yang awalnya hanya Rp. 3.000.000 per bulan pada tahun 2018 kini telah meningkat tiga kali lipat menjadi Rp. 30.000.000 per bulan.

Selain kesuksesan pribadi, Yandi juga berkomitmen untuk memberdayakan para petani di sekitarnya melalui Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Juragan Sayur & Buah. Melalui program ini, Yandi dan timnya memberikan pelatihan dan dukungan kepada para petani lokal, membantu mereka mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan dan meningkatkan produktivitas. Ini tidak hanya memperluas jaringan bisnis mereka, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan komunitas petani di wilayah mereka.

Kisah Yandi Aulia Rahman adalah contoh nyata bagaimana kecintaan pada pertanian dapat menginspirasi perubahan yang signifikan dan berkelanjutan. Dengan dedikasi, inovasi, dan semangat untuk berbagi pengetahuan, Yandi telah menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan tidak hanya mungkin, tetapi juga dapat membawa kesuksesan yang luar biasa.

Lutfi Susanto: Menyemai Mimpi di Kebun Kiyaponik

Lutfi Susanto, 35 tahun, dari Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, memulai budidaya melon hidroponik pada bulan Maret 2022. Kebun Kiyaponik yang dikelolanya berfokus pada produksi buah melon premium yang dibudidayakan menggunakan metode hidroponik, yakni tanpa tanah. Kecintaan dan hobi bertani serta kegemaran mengonsumsi buah melon menjadi landasan Lutfi menggeluti budidaya melon ini. Ia memilih metode hidroponik karena lebih aman dan sehat, mengingat melon yang dibudidayakan secara konvensional seringkali menggunakan pestisida yang tidak terkontrol.

Lutfi memilih metode hidroponik juga karena budidaya ini tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga. Namun, pada awalnya, ia menghadapi kendala minimnya pengetahuan yang mengakibatkan banyak kegagalan, terutama dalam perawatan dan penanganan hama serta penyakit. Dari kegagalan tersebut, Lutfi belajar banyak dan menjadikannya bahan evaluasi untuk musim tanam berikutnya. Kunci suksesnya adalah konsistensi, pantang menyerah, dan selalu bersyukur atas segala yang diberikan.

Pada awal merintis usaha budidaya melon, omset Lutfi berkisar di angka 3 juta rupiah. Namun, setelah kurang lebih dua tahun, omsetnya minimal mencapai 20 juta rupiah per periode panen (sekitar 70 hari). Sistem pemasaran yang digunakan adalah Open Farm, di mana pembeli dapat langsung memilih buah melon di kebun, menimbang, membayar, serta mendapatkan bonus berfoto di kebun. Selain itu, Lutfi juga menerima pemesanan secara indent (pemesanan sebelum masa panen).

Inovasi yang dilakukan Lutfi dalam budidaya melonnya adalah menggunakan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) dan DRFT (Dynamic Root Floating Technique). Metode ini menggunakan media air yang telah diberi nutrisi secara tepat dan terukur untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman melon. Keunggulan metode hidroponik ini antara lain adalah minimnya kebutuhan tenaga kerja.

Selain budidaya, Lutfi juga memberdayakan warga sekitar dalam kegiatan pasca panen, khususnya dalam proses roof cleaning, yaitu pembersihan atap plastik UV agar sinar matahari yang masuk ke kebun bisa maksimal dan meningkatkan produksi.

Bergabung dengan program YESS, yang merupakan Program dari Kementerian Pertanian yang bekerjasama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Lutfi dapat mengembangkan usahanya hingga mencapai titik ini. Awalnya, ia hanya memiliki satu mini greenhouse dengan kapasitas 100 tanaman.

Kini, usahanya telah berkembang menjadi tiga greenhouse dengan kapasitas 1.500 tanaman. Selain bantuan hibah kompetitif, Lutfi juga mendapatkan berbagai pelatihan, mulai dari Business Motivation Pathways, start-up, hingga literasi keuangan, yang sangat menambah kompetensinya dalam berusaha.

Kebun Kiyaponik milik Lutfi kini menjadi bukti nyata bahwa dengan konsistensi, inovasi, dan dukungan yang tepat, mimpi bisa diwujudkan menjadi kenyataan. Lutfi Susanto tidak hanya berhasil mengembangkan usaha budidaya melon hidroponiknya, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal dan memberikan inspirasi bagi para petani muda lainnya.

Bagus Prasetyo: Menggapai mimpi dengan Beternak Sapi

Bagus Prasetyo, sering dipanggil Bagus, berasal dari Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Di usianya yang baru 24 tahun, ia telah berhasil membuktikan bahwa usia muda tidak menjadi halangan untuk sukses dalam bidang peternakan.

Bagus tumbuh dalam keluarga peternak sapi, yang memberikan kesempatan baginya untuk belajar dunia peternakan sejak dini. Sejak kecil, Bagus sudah terlibat dalam berbagai kegiatan peternakan, dari mencari rumput hingga mengurus kandang. Didikan keras orang tuanya membentuk karakternya yang tangguh dan bertanggung jawab.

Awalnya, Bagus memiliki cita-cita yang berbeda. Saat bersekolah di SMK PGRI Banjarbaru, ia berkeinginan menjadi pekerja tambang atau profesi lain yang berhubungan dengan alat berat. Namun, takdir membawa jalannya ke arah yang berbeda.

Pada 28 Februari 2015, sebuah kecelakaan mengubah hidup Bagus. Kecelakaan tersebut merenggut fungsi tangan kirinya. Tahun pertama setelah kecelakaan sangat berat baginya, penuh dengan pertanyaan dan kebingungan. Namun, dukungan keluarga dan teman-teman, terutama dari Rahmi teman masa kecil yang kini menjadi istrinya, membantunya bangkit dari keterpurukan.

Dengan dorongan dari istri dan keluarganya, Bagus memulai perjalanan baru dalam dunia peternakan. Ia mengikuti Program YESS yang merupakan Program dari Kementerian Pertanian yang bekerjasama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Setelah mengikuti program ini ia  pelatihan dan pengetahuan dalam bidang peternakan dan bisnis. Berkat kerja kerasnya, Bagus berhasil mengembangkan usahanya dari hanya memiliki 4 ekor kambing menjadi 35 ekor kambing berkualitas.

Perjalanan Bagus tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi tantangan seperti wabah PMK yang hampir membuatnya bangkrut, serta pandangan masyarakat yang meremehkan kambing Etawa Ras Kaligesing. Bagus dengan sabar menjelaskan perbedaan dan keunggulan kambing ini kepada masyarakat. Ia juga memperkenalkan metode pemberian pakan yang lebih efisien dengan memanfaatkan limbah tahu dan tumpi jagung yang difermentasi.

Salah satu motivasi terbesar Bagus adalah memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama para pemuda, agar tidak gengsi memulai usaha sebagai peternak. Program YESS membantunya mengasah keterampilan dan pengetahuan bisnis. Bagus juga mengikuti berbagai pelatihan, termasuk Administrasi Keuangan dan Proposal Bisnis, yang membantunya menjalankan usaha dengan lebih profesional.

Dengan tekad dan kerja keras, Bagus mendirikan "Prasetyo Farm," yang ia harapkan menjadi peternakan yang kuat dan konsisten menghasilkan ternak berkualitas. Bagus juga aktif dalam kontes ternak kambing, yang membantu meningkatkan reputasi dan kepercayaan masyarakat terhadap Prasetyo Farm.

Selain fokus pada kualitas ternak, Bagus juga peduli pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Ia memanfaatkan limbah seperti kulit kedelai dan ampas tahu sebagai pakan ternak, yang membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Ia juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan menyediakan lapangan pekerjaan di peternakannya.

Bagus berharap bisa menjadi pelopor peternak kambing berkualitas di Kalimantan Selatan dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia yakin bisa mencapai tujuan tersebut dan terus memberikan inspirasi bagi generasi muda.

Share this post