PENGUMUMAN:
Trimedia.id, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) secara virtual mengadakan Rapat Konsolidasi Penderasan Informasi Pembangunan Pertanian, Senin (25/08/2025).
Rapat ini diharapkan dapat menyelaraskan strategi komunikasi, peningkatan literasi digital bagi penyuluh pertanian dan penguatan narasi positif mengenai capaian dan program pembangunan pertanian. Selain juga menjadi wadah untuk memperkuat peran penyuluh dalam melawan isu maupun rumor negatif dengan menghadirkan fakta nyata di lapangan.
Di era keterbukaan informasi dan gencarnya rumor terkait beras, penyuluh pertanian diharapkan untuk menjadi sosok yang pintar dan bijak dalam memahami berita. Ketika muncul pemberitaan miring, penyuluh pertanian harus sigap melakukan penderasan informasi positif, membuktikan bahwa program pertanian berjalan nyata di lapangan dibawah kepemimpinan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Mentan Amran menekankan jika informasi yang beredar saat ini sengaja diframing, seolah-olah kami tidak peduli dengan naiknya harga beras. Faktanya, sejak awal kami sudah bekerja keras melakukan operasi pasar besar-besaran sebanyak 1,3 juta ton dengan harga Rp12.000–12.500 per kilogram. Ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah atas arahan Bapak Presiden.
Fakta berikutnya, dengan adanya HPP, kesejahteraan petani meningkat dan kita sudah tidak impor lagi. Saat ini harga beras di 13 provinsi sudah turun, dan kami akan terus bekerja keras agar harga semakin terkendali, ujarnya.
Kemudian Ini juga bukti nyata, kami berani berhadapan dengan pengusaha yang tidak bertanggung jawab demi konsumen dan rakyat Indonesia. Jadi, jangan mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan langkah ini, karena kami tahu ada banyak yang terganggu bisnisnya akibat kebijakan tegas yang kami jalankan," jelas Mentan Amran.
Sementara, Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti, dalam arahannya menyampaikan bahwa penyuluh pertanian sangat paham kondisi di lapangan, apalagi terkait beras oplosan. Petani adalah aktor penting dalam produksi padi, tapi kenapa pengusaha yang menikmati jerih payahnya.
Pemberitaan harus bisa memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai kondisi di lapangan, salah satunya terkait beras. Saat ini pemberitaan yang tersebar sering berkembang hanya dari satu sisi. Untuk itu, mari kita hadirkan sisi lainnya dengan fakta nyata di lapangan, sehingga masyarakat dapat menilai maksud dari program pemerintah secara utuh.
"Saat ini, lita terus melakukan Gerakan LCS (like, comment, share) untuk berita positif, menangkal berita miring dengan komentar, dengan memberikan pemahaman yang tepat melalui LCS,” jelas Kabadan Santi.
Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Tedy Dirhamsyah menambahkan bahwa konsolidasi ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah dalam menyebarkan informasi yang akurat dan membangun.
“Dengan adanya konsolidasi ini, diharapkan penyuluh pertanian semakin optimal dalam memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan informasi yang akurat, inspiratif, dan membangun citra positif pertanian Indonesia,” ujar Tedy.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Komunikasi, Imam Wahyudi
menegaskan jika ada berita negatif, jangan dibiarkan. Sikapi dengan menghadirkan banyak konten positif. Berikan respon positif pada konten yang positif.
Nah, jika muncul konten negatif, mari kita counter dengan narasi berbasis kenyataan.
Saat ini mekanisme kita sudah berjalan baik, terutama dalam memperkuat komentar positif di konten-konten positif," jelas Imam.
Mewakili Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI), Ketua Tim Kerja Media Digital, Syarifah Hanoum menyampaikan bahwa saat ini banyak video Pak Menteri yang dipotong atau dicuplik oleh akun dengan jumlah pengikut tinggi hingga akhirnya viral dan menimbulkan rumor. Untuk menghadapi konten negatif seperti ini, dapat dilakukan langkah sederhana yaitu memberikan komentar positif, tetapi jangan dilike atau dishare.
"Jangan ragu untuk melakukan report pada konten maupun akun penyebarnya", tegasnya.
Kami berharap para penyuluh pertanian dapat membantu membuat konten tentang petani yang bahagia dengan harga gabah terbaru dan hasil panen raya. Begitu juga terkait pupuk bersubsidi, kini sudah ada peraturan baru yang lebih mudah dan tidak berbelit. Konten-konten seperti inilah yang mampu menjadi senjata untuk mengcounter berita negatif.
"Mari maksimalkan peran penyuluh pertanian dalam bijak bersosial media, dengan menguak fakta di lapangan sekaligus membangun emosi positif di ruang digital," tutup Syarifah.
Penderasan informasi bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan juga gerakan bersama untuk menjaga martabat petani dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah. Melalui sinergi antara Kementerian Pertanian, BPPSDMP, Pusluhtan dan seluruh penyuluh pertanian diharapkan narasi positif pertanian Indonesia semakin kuat di ruang publik. Fakta di lapangan harus menjadi senjata utama dalam mengcounter berita miring, sekaligus membangun semangat dan optimisme petani. (FB/NF)