PENGUMUMAN:
Trimedia.id, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian kembali menghadirkan inovasi mutakhir dalam kegiatan Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 05 ,Selasa (10/02/2026).
Mengusung tema “Penyuluhan Pertanian Digital Berbasis AI di WhatsApp”, kegiatan ini memperkenalkan inovasi TANIA (Teman Interaktif Penyuluh dan Petani Digital) sebagai solusi cerdas dalam menghadapi kompleksitas tantangan penyuluhan di era digital.
Acara yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube @pusluhtanri dan _Zoom Meeting_ ini diikuti oleh penyuluh dan petani dari berbagai daerah di Indonesia. Pengembangan inovasi digital tersebut merupakan tindak lanjut dari visi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mendorong penyuluh menjadi motor penggerak percepatan swasembada pangan, dengan menekankan pentingnya integritas dan kecepatan dalam melayani petani.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya keselarasan program dalam satu irama dan satu komando.
“Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) diharapkan dapat menjadi asisten bagi penyuluh untuk memperluas jangkauan layanan tanpa menambah beban kerja fisik secara berlebihan” ujarnya.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, menyampaikan bahwa adaptasi teknologi digital seperti TANIA diharapkan mampu membentuk aparatur yang berintegritas dan berdaya saing tinggi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Kegiatan Ngobras Vol. 05 menghadirkan Beni Sapaat, penyuluh pertanian dari Kabupaten Bogor, sebagai narasumber utama yang didampingi Hasan Latuconsina, penyuluh pertanian ahli madya. Diskusi dipandu oleh moderator Febbi Suci Ramadani yang menjembatani interaksi antara pusat dan penyuluh di daerah.
Dalam paparannya, Beni Sapaat menjelaskan bahwa TANIA dikembangkan untuk menjawab kebutuhan informasi pertanian yang bersifat real-time, di tengah keterbatasan jumlah penyuluh dibandingkan luas wilayah binaan.
“Berbasis platform WhatsApp yang telah familiar di masyarakat, TANIA berfungsi sebagai asisten virtual yang mampu memberikan respons cepat, mengintegrasikan pengetahuan, serta meningkatkan efisiensi kerja penyuluhan” jelas Beni.
Aplikasi TANIA dapat diakses langsung melalui WhatsApp tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan. Pengguna cukup menyimpan nomor 0851 2131 7419 dengan nama kontak TANIA – Penyuluh Digital, lalu memulai percakapan.
Melalui layanan ini, petani dan penyuluh dapat mengajukan pertanyaan seputar budidaya, gejala organisme pengganggu tanaman (OPT), informasi teknis dasar, hingga mengirimkan foto kondisi tanaman untuk analisis awal.
TANIA memberikan respons dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Kehadirannya diharapkan dapat memperluas jangkauan penyuluhan, meningkatkan literasi digital petani, serta melengkapi peran penyuluh di lapangan. Untuk kasus yang kompleks, pengguna tetap diarahkan untuk berkonsultasi langsung dengan penyuluh pendamping.
Meskipun berbasis AI dengan tingkat akurasi sekitar 80 persen, TANIA ditegaskan bukan sebagai pengganti penyuluh manusia, melainkan sebagai alat bantu untuk memperluas akses informasi. Sistem juga dirancang untuk meneruskan konsultasi yang sangat kompleks kepada penyuluh manusia.
Dalam sesi diskusi, peserta dari berbagai daerah seperti Samosir, Blora, dan Banyuasin menyambut positif inovasi ini sebagai langkah nyata transformasi digital penyuluhan pertanian. Ke depan, TANIA akan terus dikembangkan, termasuk penambahan fitur audio chat (voice note) guna mempermudah akses bagi petani di wilayah terpencil.
Sebagai penutup, ditegaskan bahwa data dan informasi yang dikelola secara digital melalui aplikasi TANIA akan menjadi aset penting dalam memantau permasalahan aktual petani secara terdokumentasi. Dengan pemanfaatan AI yang bijak, penyuluhan pertanian Indonesia diharapkan menjadi lebih terukur, inklusif, dan mampu menjangkau wilayah yang lebih luas demi kemajuan petani nusantara. (RS)