PENGUMUMAN:
Trimedia.id, Jakarta-Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian menggelar Mentan Sapa Petani dan Penyuluhan (MSPP) Volume 8, Jumat (06/03/2026).
Mengusung tema “Sinergi Para Penyuluh Pertanian dan Teknologi Unggulan dalam Mewujudkan Pertanian Presisi Berbasis Digital.” Kegiatan dilaksanakan melalui webinar yang diikuti oleh seluruh Penyuluh Pertanian se-Indonesia.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa teknologi adalah tulang punggung swasembada masa depan.
"Kita harus melompat dari cara tradisional ke cara modern. Pertanian presisi adalah jawabannya. Saya minta penyuluh jangan hanya jadi penonton kemajuan teknologi, tapi harus jadi instruktur bagi petani. Gunakan data satelit dan sensor tanah untuk menentukan langkah di lapangan. Dengan teknologi, kita tekan biaya produksi dan kita lipatgandakan hasil panen." kata Mentan Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyoroti pentingnya literasi digital bagi para aparatur di lapangan.
"SDM pertanian harus adaptif. Sinergi antara penyuluh dan teknologi unggulan akan menciptakan ekosistem pertanian yang lebih terukur. Kita ingin setiap benih dan pupuk yang keluar dari bantuan pemerintah dapat dimonitor efektivitasnya melalui sistem digital. Itulah esensi dari pertanian presisi yang sedang kita bangun bersama." kata Santi.
Kegiatan MSPP volume 8 mengusung tema Sinergi Para Penyuluh Pertanian dan Teknologi Unggulan dalam Mewujudkan Pertanian Presisi Berbasis Digital yang menghadirkan narasumber dari BRIN Aris Pramudia, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN. Fokus utama diskusi adalah bagaimana teknologi satelit, IoT, dan algoritma iklim dapat membantu petani meminimalisir risiko kegagalan tanam. Dan didampingi Neneng Suwangsih, seorang Penyuluh Ahli Muda dan menghadirkan narasumber utama.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dhamo Putro menyampaikan bahwa sinkronisasi informasi digital harus sampai ke level tapak.
"Pusat Penyuluhan berkomitmen memfasilitasi akses informasi teknologi bagi seluruh BPP. Teknologi seperti Katam dan Siscrop harus menjadi 'makanan harian' penyuluh dalam memberikan rekomendasi kepada petani. Kita ingin menciptakan penyuluh yang melek data, karena di era ini, data yang akurat adalah separuh dari keberhasilan panen."katanya.
Dalam paparannya, Aris Pramudia menguraikan ekosistem teknologi presisi yang kini menjadi navigasi utama bagi insan pertanian, dimulai dari pemanfaatan Sistem Informasi Katam Terpadu (Siap Tanam) yang menyajikan estimasi jadwal tanam, potensi luas tanam, hingga rekomendasi dosis pupuk dan varietas spesifik kecamatan berdasarkan analisis iklim terkini.
Kecanggihan ini diperkuat oleh aplikasi Siscrop yang mengadopsi data satelit Sentinel-2 dengan resolusi spasial tinggi (10x10 meter), memungkinkan penyuluh memantau fase pertumbuhan tanaman secara real-time mulai dari tahap penggenangan, vegetatif, hingga fase generatif di setiap jengkal lahan. Integrasi data satelit ini menjadi instrumen prediktif yang sangat akurat untuk memproyeksikan luas panen hingga tiga bulan ke depan, sehingga pemerintah dan petani dapat mengambil langkah antisipatif terhadap stok pangan nasional secara lebih presisi.
Lebih jauh lagi, implementasi pertanian presisi ini mencakup perlindungan tanaman melalui EWS Pantara, sebuah sistem peringatan dini yang mendeteksi potensi banjir dan kekeringan khusus untuk komoditas strategis seperti bawang merah dan cabai. Inovasi unik lainnya adalah Sistem Alarm Kopi berbasis digital 4.0 yang menggunakan perangkat Automatic Weather Station (AWS) telemetri untuk memantau suhu dan kelembaban mikro di perkebunan secara otomatis. Melalui algoritma machine learning, sistem ini akan mengirimkan notifikasi alarm ke ponsel petani ketika kopi telah mencapai kematangan optimal, sehingga kualitas panen "petik merah" dapat terjaga secara konsisten.
Penggunaan sensor berbasis Internet of Things (IoT) dan drone pemetaan ini menandai pergeseran paradigma pertanian menuju otomatisasi yang meminimalkan limbah input produksi dan memaksimalkan efisiensi energi di seluruh lini usaha tani.
Sesi diskusi mengungkap tantangan nyata seperti kesenjangan digital pada petani senior (kolonial), masalah blind spot internet di NTT dan Kalimantan, hingga anomali cuaca yang sering bergeser dari pola Okmar/Asep (Oktober-Maret/April-September). Sebagai solusi, penyuluh didorong menjadi "Science Communicator" atau penerjemah ilmiah yang mengubah data satelit yang rumit menjadi bahasa praktis melalui modul sederhana atau "Info BPP" cetak bagi wilayah minim sinyal.
Selain itu, kerja sama dengan Direktorat Kemitraan Riset BRIN dibuka luas bagi daerah yang membutuhkan pendampingan teknologi spesifik lokasi. Untuk mengatasi mahalnya biaya perangkat seperti drone, pemerintah mendorong sistem Brigade Alsintan atau pengelolaan kolektif oleh kelompok tani agar teknologi tinggi tetap dapat diakses oleh petani gurem.
Sebagai penutup, Neneng Suwangsih memberikan pesan penguatan: "Tugas lapangan memang berat, apalagi di tengah keterbatasan sarana dan ancaman banjir. Namun, jangan menyerah. Mari kita jalani tugas dengan ikhlas dan tetap semangat mengadopsi teknologi. Ingat, jika tidak ada pertanaman, tidak ada panen. Sinergi satu komando teknologi ini adalah kunci keseimbangan kinerja kita semua," pungkasnya. (RS)